Monday, June 17, 2013

Ma Ata RM

Ma Ata RM


Di tempat saya bekerja, bila ada atasan saya dan jajarannya datang dari ibu kota -sebagaimana juga di perusahaan lain mungkin- maka kami akan menyempatkan diri untuk makan siang bersama agar terus dapat menjalin keakraban dan stabilitas kerjasama yang hangat dan kekeluargaan. Kadang sambil makan  bersama, persoalan yang di meeting dibicarakan dengan tegang, akan terasa lebih mudah disampaikan karena cairnya suasana.
Namun bukan di tempat dimana harus mengiris daging dengan pisau dan menyuap ke mulut dengan garpu,  atau di tempat dimana hidangan berlimpah ruah À la carte yang makannya harus urut dari appetizer sampai dengan ditutup dengan dessert yang manis disertai pilihan kopi atau teh, bukan, bukan disitu. Rupanya kami sudah jenuh dengan makanan di fancy restaurant yang sekali makan kadang biayanya bisa menghidupi satu keluarga sebulan, lengkap dengan bayar listrik dan iuran RT.
Kembali ke selera asal sebagai orang Indonesia, kami sekantor rupanya menyukai sambal plus lalapan dan ikan asin, sayur asem, goreng pete, semur jengkol, dan main course berupa ayam, ikan, dan daging gepuk berbumbu rempah khas Indonesia, yang membuat kita dijajah 350 tahun itu.  Terutama yang kami cari adalah sambal dan semur jengkol. Oke, yang terakhir. Semur jengkol.
Semur jengkol ini oleh kami ada yang disukai dan dicintai secara terang-terangan -atasan saya pernah membekalnya ke suatu restoran Thailand dengan kantong kresek, dan santai memakannya ditemani nasi putih- , ada juga yang malu-malu, pura-pura takut dengan baunya, namun menghabiskan dua porsi diam-diam, saat tak banyak yang melihat. Itu saya.
Di Bandung ini ada dua warung makan berbilik bambu yang menjadi favorit kami untuk santap siang, Warung Ma Ata di jalan Buah Batu Bandung, agak sanaan setelah keluar pintu tol, sepelemparan batu setelah pom bensin, nah warung nasi yang nyelip ini dipadati selalu oleh pengunjung. Jangan cari semur jengkol setelah jam dua siang, pasti sudah habis ludes tak bersisa diborong orang.  Ma Ata ini dalam pelayanan cukup memuaskan, dihidangkan cepat terhidang buat orang yang sudah gelisah kelaparan, namun tempatnya sempit berdesakan, juga kursi plastiknya kadang mengkhawatirkan, takut plenyot diduduki. Sikut kami pun saat makan sering beradu karena sempit, tapi seru berkutat dengan makanan yang terhidang dan keringat bercucuran karena sambal terasi yang pedas dan nikmat.  Tidak usah berbekal kartu kredit untuk bayar, lagian mau digesek kemana. Beberapa ratus ribu bisa cukup untuk satu gerombolan siberat.
Satu lagi warung nasi favorit kami di Gedebage. Wah dimana itu ya? Letaknya di jalan Soekarno Hatta menuju ke ujung timur. Soal sempit tidak sesempit Ma Ata, tapi kalau menggunakan bahasa apakah warung ini representatif, tentu saja jangan berharap banyak bagi warung makan berdinding bilik ya. Kadang kami pun bersempit ria, panas tentu saja, karena tidak ber-AC. Namun kota Bandung yang dikenal masih lumayan sejuk, membuat suasana di warung ini tidak terlalu panas walau banyak manusia.
Sambal di Barokah dibuat mendadak. Artinya saat itu juga sesuai pengunjung yang datang. Pedasnya luar biasa. Saya sampai curiga diberi bubuk mesiu (emang mesiu pedas apa ya?). Yang jelas pedasnya menyiksa, kadang membuat otak menjadi terang benderang, dan biasanya membuat kami semua yang makan akan menangis, bukan karena sedih, tapi kepedasan. Sambal terasi manis asin pedas luar biasa ini cocok sekali disantap beserta ayam goreng manis atau asin, atau ikan mas goreng kering yang terasa renyah.


Peta: SPBU Martanegara Asri - Ma Ata RM

Sumber: http://wisata.kompasiana.com

No comments:

Post a Comment