Monday, April 1, 2013
Acap 88
Acap 88
2011-08-04
Peta: SPBU Martanegara Asri - Acap 88
Sumber: http://id.openrice.com
the best kwetiau siram in town
Ini dia the best kwetiau siram yang pernah saya makan di Bandung.. Tempatnya sih memang tidak begitu bagus, seperti kedai2 mie. Tetapi cukup rapi dan bersih. Saya lebih menyukai kwetiau yang berasal dari pontianak, menurut saya tekstur dan kekenyalannya paling enak hehehe. Menu favorit saya disini adalah kwetiau siramnya..
Cara pembuatannya adalah kwetiau dimasak dahulu di atas wajan hingga agak kecoklatan. Sementara kwetiau sedang dimasak, koki membuat bumbu siramannya yang berasal dari kuah sapi dan diberi aci dan dicampur bersama daging sapi, sayuran dan toge yang sudah dirmasak sebelumnya. Kemudian kwetiau diletakkan diatas piring kemudian disiram dengan kuah dan sayuran tersebut..Hmm rasanya sangat lezat sekali, very recommended deh
Oiya untuk dagingnya, standarnya adalah daging sapi+ jeroan2 sapi lainnya, tetapi jika Open Ricers minta hanya memakai daging sapi juga boleh kok..Porsinya cukup besar dan dapat dimakan oleh 2 orang..
kwetiau siram
Kwetiau siram sapi (Rp 18.000)
Selain itu, baso sapinya pun sangat enak..Basonya kenyal tetapi sangat lembut dan seperti melted di mulut, enakk bangett. Kuahnya pun sangat gurih dan lezat. Satu porsin baso sapi dibandrol dengan harga Rp 18.000 berisi 10 buah baso, tetapi Open Ricers dapat memesan 1/2 porsi loh cuma ya agak rugi karena dihargai Rp 10.000,- tetapi dibanding tidak habis kan mubazir hehehe..
baso sapi
Baso sapi 1/2 porsi (Rp 10.000)
Untuk minumannya, setiap pengunjung diberi segelas teh panas yang dapat direfill jika habis hehehe..Tetapi disini disediakan menu minuman juga lainnya, seperti es jeruk dengan harga Rp 6.000,- Jeruknya merupakan perasan jeruk murni, jadi terhitung cukup murah dan rasanya enak, campuran antara asamnya jeruk pontianak dan manisnya gula..
Cara pembuatannya adalah kwetiau dimasak dahulu di atas wajan hingga agak kecoklatan. Sementara kwetiau sedang dimasak, koki membuat bumbu siramannya yang berasal dari kuah sapi dan diberi aci dan dicampur bersama daging sapi, sayuran dan toge yang sudah dirmasak sebelumnya. Kemudian kwetiau diletakkan diatas piring kemudian disiram dengan kuah dan sayuran tersebut..Hmm rasanya sangat lezat sekali, very recommended deh
Selain itu, baso sapinya pun sangat enak..Basonya kenyal tetapi sangat lembut dan seperti melted di mulut, enakk bangett. Kuahnya pun sangat gurih dan lezat. Satu porsin baso sapi dibandrol dengan harga Rp 18.000 berisi 10 buah baso, tetapi Open Ricers dapat memesan 1/2 porsi loh cuma ya agak rugi karena dihargai Rp 10.000,- tetapi dibanding tidak habis kan mubazir hehehe..
Untuk minumannya, setiap pengunjung diberi segelas teh panas yang dapat direfill jika habis hehehe..Tetapi disini disediakan menu minuman juga lainnya, seperti es jeruk dengan harga Rp 6.000,- Jeruknya merupakan perasan jeruk murni, jadi terhitung cukup murah dan rasanya enak, campuran antara asamnya jeruk pontianak dan manisnya gula..
Recommended Dish(es):
kwetiau siram, baso sapi
Spending:
Approximately
IDR 20000(Dinner)Peta: SPBU Martanegara Asri - Acap 88
Sumber: http://id.openrice.com
Resto 499
On Friday I was four with my friends at 499 Resto ordering lunch menu:
- Acid Kakap Sweet Serves 1
- Cah Chicken Mushrooms Serves 1
- Fried noodles Serves 1
- White Rice Serves 4
- Fresh Ice Tea Serves 4
499 Restaurant is certified kosher Chinese restaurant with a classic style interior design oriental. Present in 1968 made 499Restaurant became the first restaurant in Indonesia, which has a service with service delivery systems. Offering a diverse andvaried menu with the most competitive price and high flavor make Restaurant 499 still exist today and has always been a people's choice of Bandung.
Curious to try to offer 499 special menu restaurant !!!!.. do not delay immediate visit to the 499 restaurant to feel the sensation ofChinese food that can be enjoyed by everyone.
Peta: SPBU Martanegara Asri - Resto 499
Sumber: http://www.koolred.com
Mie Baso Linggarjati
Mie Baso Linggarjati

Bandung - Mungkin anda kerap melintasi Jalan Balon Gede, yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Raya Bandung. Persis di samping bekas gedung bioskop Dian Kencana yang kini digunakan sebagai tempat futsal. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu kalau di Jalan tersebut ada rumah makan mie bakso yang usianya hampir mau setengah abad.
Namanya RM Linggar Jati. Bangunannya sederhana, didominasi unsur kayu yang disapu dengan cat warna hijau muda. Dari sekian banyak deretan rumah makan yang sempat meramaikan jalan ini, rumah makan ini paling kuat bertahan hingga kini.
Pengelola rumah makan Linggar Jati Ali Bustaman(75) menuturkan rumah makan ini didirikan orang tuanya tahun 1950. Orang tuanya merupakan imigran dari Cina. Kala itu, makanan yang dijual bermacam-macam dari mulai makanan berat seperti nasi sampai mie bakso.
"Dulu jualannya macam-macam, semua ada di sini bukan cuma mie bakso," ujarnya membuka cerita.
Sejak rumah makan Linggar Jati dibuka, Ali sudah membantu orang tuanya. Saat ini pun kakek yang sudah bercucu 8 ini masih giat mengelola bersama adiknya Agus (70).
Namun lain dulu lain sekarang. Seiring bergeraknya roda sejarah, pengunjung rumah makan Linggar Jati pun tidak lagi seperti dulu.
"Kalau dulu campur, ada orang Belanda, juga orang pribumi yang makan di sini," tuturnya. Apalagi dulu kawasan ini masih terbilang ramai karena masih ada empat bioskop di antaranya seperti Dian Kencana, Nusantara, dan Oriental.
Sepulang nonton, para pengunjung menyempatkan diri untuk makan di RM Linggar Jati. Sehingga kala itu, makin malam, RM Linggar Jati makin ramai, bahkan bisa tutup sampai pukul 24.00 WIB.
Dibandingkan menu lainnya, para pengunjung lebih banyak memburu mie bakso. Langkanya pedagang mie bakso saat itu membuat tempat ini terus dijejali.
Karena menu mie bakso yang paling banyak digemari, dan penyajiannya lebih cepat dari makanan lain, akhirnya RM Linggar Jati pun hanya menyediakan menu mie bakso saja dan menghilangkan menu nasi.
"Pengunjung kan banyak, mie bakso penyajiannya paling cepat, jadi kita jual mie bakso aja," tuturnya.
Selepas empat bioskop tersebut tidak beroperasi lagi, RM linggar Jati pun terkena imbasnya. Namun Ali tidak tahu kapan tepatnya itu. Yang pasti, pengunjung tidak seramai dulu. Jika dulu bisa ramai sampai lepas malam, kini hanya buka sampai pukul 20.30 WIB.
Menurutnya, kini konsumen lebih banyak mengincar wisata kuliner di daerah utara. Selain itu, persaingan kuliner khususnya mie dan bakso makin tinggi. Tapi di antara konsumen masih banyak pelanggan-pelanggan yang bertahan hingga kini.
Begitupun di mata wisatawan, nama RM Linggar Jati belum kehilangan pamornya. Setiap akhir pekan pengunjungnya sudah bisa dipastikan ramai, terutama dari luar kota. Jika hari biasa bisa menjual 100 porsi bakso, di akhir pekan bisa mencapai dua kali lipatnya.(ema/ern)
Peta: SPBU Martanegara Asri - Mie Baso Linggarjati
Sumber: http://news.detik.com
Bandung - Mungkin anda kerap melintasi Jalan Balon Gede, yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Raya Bandung. Persis di samping bekas gedung bioskop Dian Kencana yang kini digunakan sebagai tempat futsal. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu kalau di Jalan tersebut ada rumah makan mie bakso yang usianya hampir mau setengah abad.
Namanya RM Linggar Jati. Bangunannya sederhana, didominasi unsur kayu yang disapu dengan cat warna hijau muda. Dari sekian banyak deretan rumah makan yang sempat meramaikan jalan ini, rumah makan ini paling kuat bertahan hingga kini.
Pengelola rumah makan Linggar Jati Ali Bustaman(75) menuturkan rumah makan ini didirikan orang tuanya tahun 1950. Orang tuanya merupakan imigran dari Cina. Kala itu, makanan yang dijual bermacam-macam dari mulai makanan berat seperti nasi sampai mie bakso.
"Dulu jualannya macam-macam, semua ada di sini bukan cuma mie bakso," ujarnya membuka cerita.
Sejak rumah makan Linggar Jati dibuka, Ali sudah membantu orang tuanya. Saat ini pun kakek yang sudah bercucu 8 ini masih giat mengelola bersama adiknya Agus (70).
Namun lain dulu lain sekarang. Seiring bergeraknya roda sejarah, pengunjung rumah makan Linggar Jati pun tidak lagi seperti dulu.
"Kalau dulu campur, ada orang Belanda, juga orang pribumi yang makan di sini," tuturnya. Apalagi dulu kawasan ini masih terbilang ramai karena masih ada empat bioskop di antaranya seperti Dian Kencana, Nusantara, dan Oriental.
Sepulang nonton, para pengunjung menyempatkan diri untuk makan di RM Linggar Jati. Sehingga kala itu, makin malam, RM Linggar Jati makin ramai, bahkan bisa tutup sampai pukul 24.00 WIB.
Dibandingkan menu lainnya, para pengunjung lebih banyak memburu mie bakso. Langkanya pedagang mie bakso saat itu membuat tempat ini terus dijejali.
Karena menu mie bakso yang paling banyak digemari, dan penyajiannya lebih cepat dari makanan lain, akhirnya RM Linggar Jati pun hanya menyediakan menu mie bakso saja dan menghilangkan menu nasi.
"Pengunjung kan banyak, mie bakso penyajiannya paling cepat, jadi kita jual mie bakso aja," tuturnya.
Selepas empat bioskop tersebut tidak beroperasi lagi, RM linggar Jati pun terkena imbasnya. Namun Ali tidak tahu kapan tepatnya itu. Yang pasti, pengunjung tidak seramai dulu. Jika dulu bisa ramai sampai lepas malam, kini hanya buka sampai pukul 20.30 WIB.
Menurutnya, kini konsumen lebih banyak mengincar wisata kuliner di daerah utara. Selain itu, persaingan kuliner khususnya mie dan bakso makin tinggi. Tapi di antara konsumen masih banyak pelanggan-pelanggan yang bertahan hingga kini.
Begitupun di mata wisatawan, nama RM Linggar Jati belum kehilangan pamornya. Setiap akhir pekan pengunjungnya sudah bisa dipastikan ramai, terutama dari luar kota. Jika hari biasa bisa menjual 100 porsi bakso, di akhir pekan bisa mencapai dua kali lipatnya.(ema/ern)
Peta: SPBU Martanegara Asri - Mie Baso Linggarjati
Sumber: http://news.detik.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Resto 499 certified kosher Chinese restaurant